warungwarung

Pagi yang polos – I cherish the moment I have

In sumpit on January 15, 2011 at 8:22 am

Telor, tahu, tomat dan nasi putih, ini adalah makan pagi saya. Bukan makan pagi karena saya makan jam 11. Atau anggaplah sarapan karena ini makanan pertama yang dikunyah oleh mulut saya pada hari ini terlepas jam makan pagi secara teknis sudah lewat. Atau makan siang karena saya tidak makan lagi sampe malam menjelang. Saya masak sendiri dari bahan makanan terakhir yang ada di kulkas. Saya bukan tukang masak -kalo orang suka tidur disebut tukang tidur, nah begitu maksud saya utk istilah tukang masak, bukan profesi koki – makanya saya tidak belanja teratur untuk mengisi ulang kulkas. Kalo pun di kulkas ada bahan bervariasi, saya akan tetep kerepotan untuk mengolahnya. Kemampuan memasak saya sangat terbatas.

Ada sisa 2 butir telor ayam, sepotong tahu sumedang yg saya beli 4 hari lalu, saya cium dulu untuk mastiin tahunya belum basi, saya tidak mau terulang menelan sus basi, tapi baru ketahuan pada saat kuenya sudah di pangkal lidah. Ntah saya mengalami degradasi indera pengecap atau emang pangkal lidah yang merasakan rasa basi jadinya terlambat untuk memuntahkannya. Trus ada tomat 3 buah Saya cuma ambil satu untuk campuran telor.

Dengan bermodalkan ketiga bahan itu, minyak goreng dan sedikit garam, jadilah makan pagi berupa telor dadar tomat, tahu goreng dan nasi yg saya ambil dari stok untuk anjing saya karena saya pikir mereka sudah terlalu gemuk jadi harus diet karbo 🙂

Beginilah kalo saya tidak keluar untuk makan. Kadang pengen belajar masak supaya lebih jago sehingga bau makanan enak bisa terbang ke seantero kompleks perumahan saat ditiup angin, seperti setiap kali tetangga saya masak pasti baunya tercium sampe ke dalam ke rumah. Tapi mikir lagi: lebih enak ke warung warung kale, yummy dan praktis tinggal comot comot aja. Tidak perlu rapiin dapur, nyuci piring dan perabotan habis masak. Repot! 🙂

Bagaimanapun sederhananya makanan yang saya hasilkan di pagi yang kesiangan ini, I cherish it. Saya menghargai diri saya untuk waktu yang saya luangkan untuk membuat sarapan ini. Saya belajar menghargai proses dan hasilnya, kalopun rasanya sangat polos saya tetap menikmatinya dan nikmatnya tidak hilang meski saya makannya pake sendok teh! 🙂

Saya pikir tidak perlu berbuat besar untuk menjadi bangga, tidak perlu memindah gunung untuk membesarkan otot. Apa pun itu, I try to cherish the moment I have.

gunawan – single

Advertisements
  1. astaga, sederhana sekali hidup mas ini. bersahaja. tapi lain kali tolong jangan ambil jatah nasi anjing2nya, kalo mau kan bs masak lagi kan mas 🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: