warungwarung

Susu dan sereal

In sumpit on January 15, 2011 at 2:23 am

Bukan. Ini bukan menu sarapan. Ini adalah makan malam saya semalam.

Saya teringat dengan salah satu dialog di film seri Heroes, kayaknya sih ketika adegan pertengkaran Claire bennet – gadis yang mempunyai kekuatan untuk melawan kematian – dengan ayahnya. Sang ayahsempet bilang bahwa dia melakukan semua ini untuk anaknya, bukan bermaksud mengekang. Dia hanya memastikan anaknya aman dan jauh dari bahaya, meski itu harus membuat hidupnya jadi sepi dan makan malam hanya dengan sereal dan susu. Bukan situasi yang dia mau, tapi terpaksa.

Dan ketika suapan muesli pertama ke mulut saya, terlintas aja dialog itu ke otak saya dan secara otomatis mencari asosiasi antara susu dan sereal dan sepi.  Saya tidak berada dalam kondisi Pak Bennet. Satu karena saya makan susu dan sereal karena males keluar, dua karena saya belum punya anak dan saya juga ngak cerai.

Tapi makan malam dengan susu dan sereal memang menggambarkan keadaan yang tidak mengenakan. Entah karena terpaksa, atau tidak mempunyai kekuatan untuk melawan keadaan, kalo kasus saya tidak kuat melawan kemalasan 🙂 dan saya tidak senang makan susu dan sereal dan itu kebawa ke menit menit berikutnya yang membuat suasana malam saya seperti suasana malam Pak Bennet, dan ditambah lagi dialog dari film di TV yg kalo diterjemahin kasar jadinya: “pernahkah kamu merasa kamu bukan diri kamu sendiri dan tidak kuat melawannya?”. “Seperti perasaan, ‘menjadi diri saya sendiri kurang cukup bagus dan saya harus mengejar mimpi orang lain dengan otak dan badan saya’.”

Dalam level yang lebih serius daripada makan susu dan muesli adalah ketidakpuasan dari waktu ke waktu membuat kita benci terhadap diri kita sendiri atau “I am not good enough to be me”. Merasa terlalu banyak hal buruk dibandingkan dengan yang baik dan tidak pernah membuat kemajuan. Doa menjadi terlalu menuntut, doa ngak dijawab kemudian muncul rasa “Tuhan lagi ngak asik sama gw”

Bagaimana kemudian perasaan itu membuat cara pandang kita berubah dan semuanya terlalu berat untuk dilakukan. Tidak mau mengerti dan lebih nyaman menangisi atau marah dengan kondisi yang ada. Apa sih sebenarnya yang bisa kita lakukan kemudian? Sejujurnya saya tidak tau. Mengubah cara pandang sama susahnya menganggap dunia itu kotak.

Semalam saya tidur 5 jam dan terbangun karena hidung mampet. Dan saya mendapatkan jawaban: berbagilah. Bener lho. Pagi saya bangun mendengarkan cerita dari seorang teman yang bener bener bikin saya terkejut dan haru. Dia menderita… saya lupa namanya, yang pasti mental illness. Dia tidak bisa mengontrol perasaannya, tidak ada jarak antara senang dan sedih. Impulsive. Dia menggangap dirinya di antara normal dan tidak normal. Suatu keadaan yang saya sendiri tidak bisa bayangkan, namun cukup mengerti how he feels from time to time. Neither happiness nor sadness. Empty? I don’t know, tapi mari kita bayangkan ketika kita berada di tengah pesta kemenangan yang mengelu-elukan kita, yang membuat kita sangat bahagia, tapi jauh di bawah sadar ada rasa berlawanan muncul, yang akan mengubah segalanya dalam sedetik dan berubah lagi dalam sedetik berikutnya dan berubah, berubah, berubah… ini bukan ksatria baja hitam ya ;). Dan ketika rasa itu bener bener muncul Apa sebenarnya yang kita rasakan? Bahagia atau sedih? Menang atau kalah?…………

Nah sekarang bandingkan apakah bebanmu masih berat?

Buat seorang teman yang mau berbagi di pagi hari, saya ucapkan selamat pagi dan berharap you can make the most of your day. Meski kamu mengatakan tidak tau bagaimana caranya, Tuhan akan membuat kamu tau….

gunawan – single

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: