warungwarung

cinta lama

In Sendok on January 21, 2011 at 7:36 am

adalah gw sendirian aja di warung warung, Jeff masih bergelut dengan segerombolan pinoy di kamar uap mungkin LOL, dan Gun yang lagi di Surabaya sibuk mencari cinta di “Telaga Cinta” (baca tulisan Gun sebelumnya), namun pasti berakhir di rumah peristirahatan (baca: bordil) hahaha

sambil kembali melihat tulisan sendiri di majalah DiRadio, ditemani secangkir peach tea.

cinta lama … hmmm mungkin pada kenyataannya gak seindah cerita ini ya, tapi ngarap boleh dong, setelah berbagai petualangan seru di dunia percintaan yang mengalahkan petualangan sherina, satu waktu nanti gw nemu yang bener diantara yang bener bener…. bener bener bandel… bener bener bosenin…. bener bener standart di ranjang… (yang belum dewasa bagian itu lewatin ya LOL) dan bener bener lainnya…

tetep ngarap nemu yang bener bener sayang 🙂 *melirik jef dan gun yang pasti gak suka dgn ide ini

CINTA LAMA

30an, single, setengah matang, percaya diri, gak bisa dibilang cantik tapi menarik. Kurang apa coba? Tapi kenapa Calista selalu buntu dengan urusan relationship?

Ben pernah bilang “Calis, laki laki dimana mana sama, gak ada yang setia, even gue juga” sahabat yang dikenal Calis sejak 8 tahun lalu ini meyakinkan.

Devina bilang “udah deh nggak usah banyak mikir, kalo elo bosen tinggal cari alasandan tinggal aja”. Perempuan super power ini juga sampai saat ini belum menikah tapi bahagia bersama 4 lelaki sekaligus. Prestasi yang sangat luar biasa.

Lena sempet penasaran “jangan jangan elo sebenernya ada hati lagi ke Ben?” yah Lena lagi, perempuan peramal yang bisa membuka semua kedok teman temannya hanya dengan tatapan mata.

Bukan gak pernah pacaran, pernah banget, 8 kali malah, tapi semua kandas dengan berbagai tehnik perpecahan dan drama yang melukai batin.

Rivan, pria yang meninggalkan dia dengan alasan karir Calista jauh lebih baik disbanding dia.

Angga, pria muda yang hanya memanfaatkan cinta Calista untuk mewujudkan impiannya membuat clothing factory.

Roy, pria yang mengatas namakan sex diatas segalanya.

Samsu, sangat beriman sampai hubungan yang hanya berlangsung selama 4 bulan ini berakhir tanpa perna merasakan sebuah ciuman kasih sayang.

Bone, lelaki yang melukai hatinya karena berselingkuh dengan sepupu Calista sendiri.

Putra, berpisah karena sebuah keteledoran, Calista hanya menjadikan lelaki ini sebagai pelarian terhadap sakt hatinya yang mendalam.

Glen, berpisah baik baik dengan Calista karena lelaki ini sadar dia lebih tertarik kepada Satrio

Bobby, kenakalannya benar benar membekas di hati nurani Calista.

Semua berawal manis tapi selalu berakhir menyakitkan. Calista semakin kehilangan kepercayaan terhadap laki laki.

“Calis udah deh nikmati hidup, kita nggak perlu terikat sama satu lelaki, selama ini juga gak ada mereka kita bisa survive? Iya gak?” Devina mencoba menenangkan.

“tapi Dev, gak semua orang bisa bahagia dengan cara seperti itu” Lena mencoba menengahi.

“ow.. pleaseeeee…… Lenaaaaaa wake up. Gak lihat lelaki jaman sekarang kayak apa? Giliran ada yang bagus udah punya orang, dapat yang benar benar bagus …. Eehhhh malah doyan sama laki juga. Boooo udah deh, hal kayak gini gak usah dipikirin” Devina mencoba realistis.

“iya sih Dev, gue juga bingung, tapi kalo gue gak married hari tua gue mau gimana coba?” Calista akhirnya bersuara walaupun terdengar depresi ringan yang bisa mengarah ke depresi akut.

“Calis, kamu mau nggak nikah sama aku?” Ben tiba tiba bertanya.

Lychee martini ditangan Calista yang sedang diminum tumpah di baju putih yang begitu membuat Calista menarik dipandang mata.

Devina dan Lena saling pandang mematung.

Suasana hening sesaat.

“hahahahahhhhaaa Benjaminnnnnnn…. Udah gila elo ya… sinting. Kita ini udah temenan 8 tahuan deh, jangan becanda ya” Calista mencoba mencairkan suasana.

“Calis, udah 8 tahun aku kenal kamu, udah 8 kali aku nemenin kamu berganti pacar, sekarang waktu untuk bilang aku nunggu perhatian kamu sebagai orang yang bisa mengisi hati kamu sejak lama. Please Calis, menikahlah denganku” Ben meyakinkan hati Calista.

“Ben udah deh jangan nambah perkara” Calista semakin keliatan salah tingkah.

Devina diam tidak tahu harus berkata apa.

“Calis, jangan bohongin hati elo, udah waktunya jujur sama hati elo, ngerti kan maksud gue?” Lena meyakinkan bahwa omongan dia tadi bukan sebuah becandaan.

“iya Calis, kita dari Jakarta ke Bali buat nemenin elo dan kita akan sangat bahagia kalau elo dan Ben bisa jadian disini. Gak usah mikirin omongan gue tadi deh. Gue juga pingin ketemu yang bener.” Devina akhirnya sadar dari kagetnya dan ikut bicara.

Sesaat hening…..

“kalo gue nikah sama Ben, gue mau kalian jadi bride mates gue, kalian siap?” Calista bertanya sambil melirik Ben

anggukan disertai senyum bahagia terpancar dari bibir Benjamin.

Bali, Mei 2010

Advertisements
%d bloggers like this: