warungwarung

Sabar, sabaaar, sabaaaaaaar

In sumpit on January 9, 2012 at 7:52 am

Salah satu penulis blog di sini mengharamkan puisi, tapi karena itu bukan hukum tertulis, cuek aja deh πŸ™‚

ini saya tulis pada saat merasa kecewa dan putus asa dan Tuhan lagi males berurusan dengan saya. ajaibnya saya ngak berhenti, saya seperti punya semangat 45 untuk “mengganggu” Tuhan. mulai dari doa serius sampai doa yang hanya berupa gumanan saat nyetir atau saat mata setengah terpejam mau tidur.

saya bukan orang religius, berdoa teratur bukan bagian dari keseharian. sampai saya pernah bertanya sama seorang yang secara spiritual sangat berpengalaman, “apa artinya berucap doa tanpa pernah memaknainya?” beliau hanya menjawab pendek “karena kamu belum merasakan nikmatnya berdoa” itu saja. dan saya juga merasa tidak perlu repot bertanya lebih lanjut, takut jadi pusing sendiri, lebih baik pamit, permisi Jero Mangku….

apakah kemudian “doa semangat 45” itu terjawab? ngak mau jawab tidak. belum kali ya, saya hanya perlu lebih sabar :))

saya menumpahkan doa di mana mana
berharap ke mana pun Engkau pergi
setidaknya satu membuatMu tersandung

saya menuliskan doa setiap saat
sambil menunggu waktu luangMu
untuk berkenan membacanya

waktu berlari
saya tidak pernah mendengar Tuhan tersandung
tidak juga mempunyai waktu luang

saya menunggu
kalo Engkau pernah menemukan satu,
membacanya sebait, itu dari saya
tolong jangan abaikan…

met tahun baru ya, semoga tahun 2012 menjadi tahun penuh berkah, bahagia dan cinta

gun

Advertisements
  1. Gun, aku tidak mengenal Tuhan seperti Tuhan mengenal aku. Kadang juga meraba, maunya Tuhan apa sih? Pernah juga menulis berlembar-lembar surat buat Tuhan: keluhan, cerita ini-itu, minta ini-itu, bahkan mimpi-mimpi liar yang aku punya dan gak mungkin aku bagi sama orang lain aku ceritakan sama Tuhan. Gak tahu apakah surat itu ada yang dibaca. Mungkin harus nunggu tumpukan surat-surat yang lain, termasuk suratmu. Kadang lelah juga.

    Akhirnya, aku lakukan saja yang aku bisa – mengikuti wejangan para sesepuh dan orang-orang yang lebih mengenal Tuhan. Ajaib, terkadang Tuhan melemparku dengan permen manis. Terkadang juga Tuhan menamparku dengan cacian dari teman-teman.

    Percaya. Cuma itu yang aku lakukan. Percaya petuah orang-orang tua: mungkin belum waktunya, waktu kita bukan waktu Tuhan, dan lain-lain. Kalau kemarin Tuhan kasih aku permen, mungkin nanti ada waktunya di kasih emas batangan. Toh hari ini sudah lebih baik dari kemarin. Mungkin benar Gun, kita harus sabar, sabaar, dan sabaaar.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: