warungwarung

Archive for the ‘makan disini aja’ Category

Warung Warung Jimbaran

In garpu, makan disini aja, Sendok on April 18, 2013 at 6:38 pm

setiap kehidupan punya cerita sendiri, kadang diatas kadang diatas banget, kadang diem diatas gak mau turun, atau bergerak statis keenakan. berbagai kejadian yang menyenangkan dan menegangkan urat syaraf bisa dibilang pernah dilewati, sampai akhirnya punya kesempatan untuk membuka Warung Warrung di Jimbaran.

lokasi ini terpilih karena satu, 2 dari 3 orang yang bertanggung jawab di Warung Warung ruang hidupnya di Jimbaran dan (terpaksa deh) mahluk satunya lagi setuju dengan lokasi ini. alasan kedua karena makin banyak customer yang sekedar bertanya bahkan berkali kali ngajak Warung Warung buka dibeberapa spot. duh, kalo buka warung segampang buka peluang jodoh sih mungkin gak pake mkir lama kali ya #pencitraan_percintaan

jujur untuk saat sekarang ini makin susah ketemu dengan staff yang sreg, bukan karena ketinggian standard, tapi emang agak ribet nemu yang pas.
sampai akhirnya setelah sedikit molor waktu pengerjaan renovasi dan anggaran belanja negaranya, terpilihlah senin 08 04 13 sebagai hari dibukanya Warung Warung Jimbaran.

mohon doa restu (udah kayak kawinan aja ini bahasanya) semuanya semoga berjalan sesuai harapan dan Warung Warung bisa menjadi saluran berkat bagi orang banyak.

ditunggu kedatangannya ya…
jangan lupa bawa uang cash, electronic data capture alias mesin edc-nya blm on kak . harap maklum, telepon aja baru nyambung berapa hari lalu. wkwkwkwkwkkk

tiada kesan tanpa kehadirannya
trims
(geli sendiri dengan bahasa 80’an ini)

20130419-023439.jpg

20130419-023654.jpg

20130419-023758.jpg

Advertisements

afternoon with you

In makan disini aja, Sendok on April 18, 2011 at 1:30 am

menikmati Ubud di sore hari dengan ditemani sepoci chamomile tea dan kafir lime chocolate fondant, ditambah music soft yang enak dan cuaca yang luar biasa segernya. God You are so Rock. it is heaven for me. so lovely.

chocolate fondantnya ini enak bgt, lengkap dengan ice cream vanilla. presentasinya bagus banget, simple but so cool. begitu diambil pake sendok chocolatenya akan meleleh, lime chocolatenya ngalir, sumpah enak bangetttttttt.

saos strawberry yang dijadiin garnish ini jg enak, cicipin deh.

sore yang sangat menyenangkan, relaxing my mind, body, and soul.
i love this place… bollero in ubud, bali

i,m IM

20110418-092854.jpg

20110418-092944.jpg

20110418-093054.jpg

honeymoon with brother 02

In makan disini aja, Sendok on February 19, 2011 at 1:02 pm

melanjutkan aksi test keimanan terhadap godaan seksual, akhirnya malam pertama di Bangkok menjadi malam kita buka meja bundar. adalah sebuah resto dekat hotel tempat kita menginap di daerah Silom, namanya SHANGARILA RESTAURANT, agak mirip nama salah satu hotel ternama yak, tapi ini resto makanan Cina yang lumayan rame, isinya sebagian besar orang tua dan warga Thai. jadi menurut perkiraan kita pasti makanannya enak.

beberapa menu sudah dipilih dan ini dia menu makan malam pertama kita di Bangkok dimulai dengan hangatnya chinese tea, dan sop jagung, kemudian di susul dengan menu berikut ini mie goreng ala thai, tofu yang dimasak dengan sea food, dan iga babi goreng dengan bumbu khas thai. rasanya makanan ini tidak terlalu totok kalo dibandingin dengan menu makanan cina kebanyakan. mungkin karena ini juga daerah turis jasi rasa disesuaikan dengan pasar 🙂 *ini cuma perkiraan lho ya

setelah makan malam yang menyenangkan, dilanjutkan dengan jalan jalan seputar silom dan kembali ke hotel. malam pertama ini tidak akan kita habiskan ditempat sesat, apalagi guider kita udah ada di Tajikistan, jadilah kita kehilangan pedoman hidup di negeri orang LOL.

good nite for now….. let see what’s going on tomorrow 😉

naikin libido atau emosi?

In makan disini aja, sumpit on February 8, 2011 at 1:14 am

gw tidak sedang merekomen orang untuk makan sate kambing ini. tapi ini hanya sebuah pernyataan saja

adalah setelah seharian di bengkel yang tadinya cuma mau service dan ganti oli mobil, merambat jadi ganti rem dan kawan kawannya, gw memilih untuk mencari makan siang… yang gak siang lagi, sudah jam 3:40 .

sebelum yoga perut harus diisi… dan pilihan jatuh ke tempat makan yang terdekat dengan tempat yoga saja, biar gak terlambat dan gak muter muter di jalan.

SATE KAMBING … tulisan di spanduknya menggiurkan sekali

setelah menunggu sekitar 20 menitan, sate kambing, gulai kambing, dan nasi putih plus teh botol hadir depan mata. penuh harapan dan semangat tinggi untuk segera menyantap makanan didepan mata ini karena lapar kronis menyerang.

tapi sungguh diluar ekspetasi, membuat gw cuma bisa senyum sendiri….. OMG nasi putihnya lebih keras dari sate kambingnya… Gosh beras apa ini yang dipake??????? keliatan bagus tapi kok keras gila gini?????

apa boleh buat… ini harus dimakan, gak boleh buang buang makanan 🙂

dan pas yoga gw semangat 45, mungkin efek nasi keras itu lebih hits dari sekedar kerasnya sate kambing … gak ngerti ini naikin libido atau emosi.  ya ya ya.. kadang kadang hidup emang keras… dan karena emang kadang kadang kita suka yang ‘keras” bukan?

 

I love food, ayo makan (3)

In makan disini aja on January 30, 2011 at 6:35 am

SATU UNTUK SEMUA @WARUNG BUNI

Saya sebenarnya tidak tau nama warungnya karena emang ngak ada papan namanya. Saya sebut buni karena tempatnya dulu deket banjar buni kuta. Sekarang sudah pindah ke jalan pantai, dari bemo corner ke arah denpasar, sebelah kanan jalan dan masih tetep ngak pake papan nama 🙂


Ini warung khas makanan Bali tanpa babi. Yang punya Ibu dari Karangasem, merantau ke Kuta dan membuka warung makan. Sebagaimana makanan Bali, tentu saja rempah rempah ajubilah banyaknya – base genep kata orang Bali atau ada yang bilang base gede yang artinya kira kira bumbu lengkap (lengkap dengan “dakin lima” atau kotoran tangan…heheheheh orang bali kan jarang pake sendok).

Ada komentar menarik dari seorang bapak yg kebetulan ayah dari temen SD saya, “warung ini sepertinya make satu jenis bumbu untuk semua. Makan ayam, makan tempe, makan udang rasa bumbunya sama” hahahahha. Kalo menurut saya ngak seperti itu. Secara tempenya digoreng kering pake bawang putih sama sedikit kecap, bagaimana mungkin rasanya sama dengan ayam bumbu kalas bali. Palingan si bapak kebanyakan nyiram nasinya dengan kuah komoh – mirip kaldu, cuma dagingnya diperas sampai airnya abis dan dagingnya dipake untuk campuran lawar – ya jelaslah rasanya sama semua.

Tidak setiap hari ada komoh, seperti terakhir saya makan di sini, komohnya tidak ada. Saya makan be siap base kalas – mirip kare ayam dengan kuah santan kuning yang sangaaat kental dan rasa rempa

h yang kuat , jukut kalas – kacang panjang disiram bumbu kalas kemudian dibejek pake tangan supaya kacang panjangnya agak letoy :), nangka – dikalas juga cuma kuahnya lebih encer heheheheh, tum ayam – yang ini ngak dikalas kok, ayam cincang kasar dibungkus pake daun pisang trus dikukus, kulit ayam digoreng kering dan… apa lagi yah?  Setelah melihat menu yang saya makan ini, kalo dipikir pikir bener juga kata si bapak, bukan komoh tapi kali ini bumbu kalas untuk semua 🙂

Selain jualan nasi Bali, warung ini juga jual godoh (pisang, ketela kadang nangka goreng dibalut tepung), pisang rebus, jagung rebus, singkong rebus, urap jagung manis (tau kan? jagung rebus yang dipisah dari bonggolnya, dicampur dengan parutan kelapa dan ditambah gula pasir sedikit), sumping biu (nagasari), sumping waluh (nagasari cuma isinya labu). Datenglah ke sana sejam sebelum makan siang, biasanya penganannya masih anget, seru dimakan bareng kopi. Enyak enyak!

Eh satu lagi, warung ini tidak punya meja kasir, jadi kalo ada yang bayar, uangnya ditaruh dalam baskom kecil bermotif bunga ditutupi piring seng motif bunga bunga juga dan di atas piring ada canangnya. Sukses ya Bu 🙂

 

 

 

Gun – it is not New York, but Kuta for some people, a place to chase their dreams.

Warung Telaga Cinta, Heh??

In makan disini aja, Sendok on January 19, 2011 at 3:38 pm

Namanya Nasi Pecel Tumpang Telaga Cinta. Dijaga oleh tiga orang. Satu mbak yang masih muda putih dan ramah, satu bapak yang agak gemuk pendek dan ramah, dan satu lagi mbok yang moleh, ngak tau ramah atau ngak karena dia lagi sibuk masak. Terletak nun jauh di pelosok Surabaya, tepatnya sambikerep sekitar sejam dari pusat Kota. Jangan minta peta ke saya, saya ngak hapal.

Ini kedua kalinya saya mampir dan tanpa di sangka si Mbak masih inget saya. Padahal 2 bulan yang lalu. Pilihan makanannya lumayan, meski tidak melimpah. Saya memilih sayur lodeh, ayam goreng, telor dadar yg di potong segitiga, perkedel – sebenarnya saya ngak minta tapi ditawari, ya sudah saya bilang iya dan tempe yang saya tidak pilih, tapi mbaknya ngak sengaja menaruhnya dalam piring pesenan saya dan baru ngeh ketika mau nyendok untuk ketiga kalinya 🙂 saya bilang ngak apa apa. “maaf ya, Mas” katanya.

Rasanya enaknya ditambah saya emang lapar jadinya ueeenak meskipun saya makan dengan sendok dan garpu yg tangkai sudah bengkok :). Selesai makan, saya duduk duduk sebentar sambil melihat sekeliling meja. Ada krupuk yg ditaruh di kaleng besar berjejer tiga. Hong kue warna pastel. Ada juga krupuk yg dibungkus dalam plastik kecil kecil di gantung di kayu melintang di atas meja.

Warung sederhana, dan sepertinya cukup dikenal sama masyarakat sekitar. Bisa diliat dari percakapan yg akrab antara pemilik dengan pelanggan. Meski saya ngak ngerti bahasa jawa, tapi dari ekspresinya keliatan mereka saling mengenal satu sama lain.

“Dari mana, Mas?” tanya si mbak ke saya

“Bali, mbak”

“Oh Mbali” katanya lagi

“Heh? ngak pake M, mbak” senyum saya

“Saya Jawa, Mas” Katanya menjelaskan tambahan kata “M”

“Oh gitu ya, Bak” kata saya

Giliran si mbak yang meng-heh, “Heh?”

“Saya bukan jawa, M nya saya buang” jawab saya becanda

“hahahahhahah” kami berdua tertawa, termasuk juga 5 pelanggan yg lainnya.

Saya lupa menanyakan nama “Telaga Cinta” ke mbaknya, tapi dari pengamatan saya sih, mungkin karena ada empang di belakang warung dan banyak pelanggan yang jatuh cinta sama si mbak, tapi ditolak terus terjun ke empang. Supaya kedengaran halus, empang diganti telaga. jadi deh Telaga Cinta 🙂 Heh??

Gun

isi di bulu

In garpu, makan disini aja, Sendok on January 11, 2011 at 8:58 am

ok ini makanan Manado, babi isi di bulu, tentu tanpa bulu babi ya 🙂  aslinya makanan ini setelah dimasak di wjan dengan segala macam rempah daun, dimasukin kedalam bambu (bahasa Manadonya bulu) terus dibakar dalam tanah. pas mau makan baru bambunya dipecahin, dan wow…… wanginya bikin halusinasi nasi sedandang besar seolah olah hanya sepiring saja

makanan ini pedes aja gitu rasanya, tapi enak, minyaknya yang jadi satu dengan rempah rempah daun bikin aroma makanan ini menggoyangkan iman buat siapa pun yang lagi mencoba diet… ini sudah terbukti pada Christian temen gw. sok diet ketat namun pada akhirnya iman pun goyah waktu menu ini keluar dari microwave. aromanya hmmmmmmm….. lebih nikmat dari sex (upssssss…. mungkin penggambaran yang lebay, tapi begitulah adanya)

pesan sponsor kalo di Manado biasa makanan ini selalu dihidangkan dengan minuman keras, terutama kalo lagi ada pesta gitu deh, tapi kalo menurut gw makanan ini sangat pas ditemani dengan teh hangat tawar…. yah kalo mau sedikit mewah boleh lah peach teanya Dilma, dan tolong tanpa gula apapun ya. ingat makan pake sendok sama garpu ya… kalo orang Manado bilang “ngana kalo makan dang ,pake tu sendok deng forok”

jadi buat yang halal menikmati jenis makanan ini seilahkan dicari  di rumah makan rumah makan khas makanan Manado

ok dan kalo ada yang nemu di Bali dimana ada yang jual babi isi di bulu ini tolong tinggalkan pesan… karena kita pe gidi gidi so malele ni dia… yakin cuma orang Manado, atau yang pacarnya Manado yang ngerti hahahahahaha

by inyo